About

ayatimg.php?&text=FFFFFF&bg=00BB00&am

Tanda Kebahagiaan

Rabu, 06 April 2016


Imam Ibnu Al Qoyyim mengatakan bahwa tanda kebahagiaan itu ada 3 hal. 3 hal tersebut adalah bersyukur ketika mendapatkan nikmat, bersabar ketika mendapatkan cobaan dan bertaubat ketika melakukan kesalahan. Beliau mengatakan: sesungguhnya 3 hal ini merupakan tanda kebahagiaan seorang hamba dan tanda keberuntungannya di dunia dan di akhirat. Seorang hamba sama sekali tidak pernah bisa terlepas dari 3 hal tersebut:

1. Syukur ketika mendapatkan nikmat.
Seorang manusia selalu berada dalam nikmat-nikmat Allah. Meskipun demikian, ternyata hanya orang berimanlah yang menyadari adanya nikmat-nikmat tersebut dan merasa bahagia dengannya. Karena hanya merekalah yang mensyukuri nikmat, mengakui adanya nikmat dan menyanjung Zat yang menganugerahkannya. Syukur dibangun di atas 5 prinsip pokok:
  1. Ketundukan orang yang bersyukur terhadap yang memberi nikmat.
  2. Rasa cinta terhadap yang memberi nikmat.
  3. Mengakui adanya nikmat yang diberikan.
  4. Memuji orang yang memberi nikmat karena nikmat yang dia berikan.
  5. Tidak menggunakan nikmat tersebut dalam hal-hal yang tidak disukai oleh yang memberi nikmat.
Siapa saja yang menjalankan lima prinsip di atas akan merasakan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, jika lima prinsip di atas tidak dilaksanakan dengan sempurna maka akan menyebabkan kesengsaraan selamanya.

2. Sabar ketika mendapat cobaan.
Dalam hidup ini di samping ada nikmat yang harus disyukuri, juga ada berbagai ujian dari Allah dan kita wajib bersabar ketika menghadapinya. Ada tiga rukun sabar yang harus dipenuhi supaya kita bisa disebut orang yang benar-benar bersabar.
  1. Menahan hati untuk tidak merasa marah terhadap ketentuan Allah.
  2. Menahan lisan untuk tidak mengadu kepada makhluk.
  3. Menahan anggota tubuh untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak di benarkan ketika terjadi musibah, seperti menampar pipi, merobek baju dan sebagainya.
Inilah tiga rukun kesabaran, jika kita mampu melaksanakannya dengan benar maka cobaan akan berubah menjadi sebuah kenikmatan.

3. Bertaubat ketika melakukan kesalahan.
Jika Allah menghendaki seorang hamba untuk mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan di dunia dan akhirat, maka Allah akan memberikan taufik kepada dirinya untuk bertaubat, merendahkan diri di hadapan-Nya dan mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai kebaikan yang mampu untuk dilaksanakan. Oleh karena itu, ada seorang ulama salaf mengatakan: “Ada seorang yang berbuat maksiat tetapi malah menjadi sebab orang tersebut masuk surga. Ada juga orang yang berbuat kebaikan namun menjadi sebab masuk neraka.” Banyak orang bertanya kepada beliau, bagaimana mungkin hal tersebut bisa terjadi?, lantas beliau menjelaskan: “Ada seorang yang berbuat dosa, lalu dosa tersebut selalu terbayang dalam benaknya. Dia selalu menangis, menyesal dan malu kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hatinya selalu sedih karena memikirkan dosa-dosa tersebut. Dosa seperti inilah yang menyebabkan seseorang mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan. Dosa seperti itu lebih bermanfaat dari berbagai bentuk ketaatan, Karena dosa tersebut menimbulkan berbagai hal yang menjadi sebab kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba. Sebaliknya ada juga yang berbuat kebaikan, akan tetapi kebaikan ini selalu dia sebut-sebut di hadapan Allah. Orang tersebut akhirnya menjadi sombong dan mengagumi dirinya sendiri disebabkan kebaikan yang dia lakukan. Orang tersebut selalu mengatakan ’saya sudah berbuat demikian dan demikian’. Ternyata kebaikan yang dia kerjakan menyebabkan timbulnya ‘ujub, sombong, membanggakan diri dan merendahkan orang lain. Hal-hal ini merupakan sebab kesengsaraan seorang hamba. Jika Allah masih menginginkan kebaikan orang tersebut, maka Allah akan memberikan cobaan kepada orang tersebut untuk menghilangkan kesombongan yang ada pada dirinya. Sebaliknya, jika Allah tidak menghendaki kebaikan pada orang tersebut, maka Allah biarkan orang tersebut terus menerus pada kesombongan dan ‘ujub. Jika ini terjadi, maka kehancuran sudah berada di hadapan mata.”

Sumber : muslim.or id 

Fase dari Karyawan ke Pengusaha

Senin, 04 April 2016

Dari  Karyawan ke Pengusaha

Menjadi karyawan kadang ada enaknya kalau gaji sudah standar UMR, dapat tunjangan tahunan, dan juga bila diikuti jenjang karir melejit. Status karyawan menjadi incaran banyak orang yang menghendaki zona nyaman. Ketakutan tidak terpenuhinya hidup membuat orang tidak mau melepaskan status karyawan. Lebih-lebih jika dapat informasi banyak pengusaha gulung tikar, sepertinya status karyawan tetap menjadi pilihan nyaman mempertahankan ekonomi sehari-hari. Tak heran lulusan-lulusan baru baik SMA/Sarjana menyerbu pusat-pusat kota sekedar memasukkan lowongan pekerjaan.
Tidak ada yang salah menjadi karyawan karena itu sebuah pilihan. Ada banyak orang menghabiskan masa tuanya menjadi karyawan perusahaan besar kemudian mendapat jaminan pensiun di hari tua. Apalagi kalau statusnya menjadi PNS tentu ini bisa lebih merasakan zona aman.
Memang bukan jadi rahasia lagi, keluar dari zona nyaman memerlukan keberanian luar biasa. Bertebaran kisah-kisah pelaku yang keluar dari zona nyaman menuju zona kebebasan banyak menghiasi kehidupan para pekerja. Tapi informasi yang diterima kebanyakan sebuah kegagalan. Jadinya keluar dari zona nyaman menuju zona kebebasan mengalami fase yang sangat sulit, tidak enak dan rentan frustasi.
Padahal menurut beberapa orang,  menjadi karyawan termasuk membatasi penghasilan. Kalaulah misalnya menjadi karyawan dia akan digaji 1,5 juta perbulan, selama dia bekerja akan menerima gaji seperti itu dan itupun diterima sekali dalam sebulan. Sementara perputaran ekonomi terbesar ada pada perdangangan. Orang yang berniaga tidak terbatasi incomenya, bisa jadi dia tiap hari mendapatkan keuntungan, bulan ini dapat 5 juta bisa jadi bulan depan dapat 6 juta atau lebih rendah dari pada itu.
Banyak contoh pengusaha sukses mengawali dari pintu karyawan mereka mendapati fase “jatuh bangun” mencapai kesuksesan. Atau yang dulunya seorang pegawai, kemudian merasa jenuh pada posisi stagnan dan berhenti untuk menuju zona kebebasan finansial.
Berikut ini link artikel langkah awal ketika Anda hendak menuju transformasi dari karyawan menuju pengusaha.
1. Persiapan mental dan niat yang benar
Ini adalah syarat paling penting untuk anda dari karyawan jadi pengusaha. Untuk keluar dari posisi karyawan saja sudah membutuhkan mental yang kuat. Karena dengan ini berarti melepas posisi dimana penghasilan menjadi pasti, pandangan positif keluarga dan teman menuju zona dimana penghasilan menjadi tidak pasti. Selain mental untuk menuju zona ketidakpastian, dibutuhkan juga mental untuk menjadi pengusaha. Dimana setiap pengusaha akan mengalami “fase jatuh bagun” yang harus dijemput selama menapaki jalan pengusaha. Di fase ini banyak pengusaha yang tidak kuat dan akhirnya menemui kebangkrutan. Mental yang kuat untuk menjadi pengusahan akan lebih ampuh bila diniatkan dengan benar. Niat untuk menjalankan semua karena ibadah. Niat untuk menjalaninya dijalan yang benar, tidak menempuh jalan yang kotor.
2. Persiapan modal
Persiapan modal menjadi syarat mutlak untuk melangkah dari karyawan jadi pengusaha. Pastikan anda memiliki modal terlebih dahulu sebelum mengajukan surat resign kepada atasan. Baik anda masih single atau sudah berkeluarga, modal tetap menjadi faktor penentu jalannya usaha. Bisa mencari investor dan bagi hasil, pinjam keluarga dan teman, dan pinjaman lunak lainnya. Bisa juga dengan menjual aset, baik itu tanah, rumah, ataupun barang2 kepemilikan pribadi. Usahakan tidak meminjam kepada rentenir karena bunga yang tinggi. Bunga yang tinggi juga bisa menyebabkan tersendatnya usaha berkembang diawal.
3. Siap bekerja lebih lama
Transformasi dari karyawan jadi pengusaha tentu saja membuat anda berusaha lagi memulai dari nol. Diawal memulai mungkin hampir seluruh waktu kita akan tersita untuk usaha. Baik itu lewat fikiran atau tindakan. Tetapi kita harus bisa me-manage waktu dengan baik. Belajar me-manage waktu adalah salah satu kunci. Bekerja lebih lama bukan berarti melupakan keluarga atau saudara. Kita juga harus bisa meluangkan waktu buat mereka.
4. Fokus dalam tujuan dan pantang menyerah
Dalam perjalan usaha kita akan sering mengalami hambatan. Baik itu sikap keluarga yang tidak proaktif ataupun lingkungan sekitar yang mencemooh. Hal ini yang sering menganggu berkembangnya usaha. Mental pun seringkali runtuh karena pendapat sekitar, apalagi saat usaha sedang jatuh. Disinilah kita harus terus bangkit dan semangat pantang menyerah. Usahakan diskusi dengan keluarga diawal usaha. Minta dukungan dari mereka. Selalu menjaga semangat dengan sharing ke sesama pengusahan terutama yang sudah berpengalaman adalah hal yang baik. Baca buku-buku motivasi bisnis para pengusaha sukses juga bisa menjadi penambah semangat. Terakhir kita harus yakin kalau rezeki kita sudah ada yang mengatur. Sehingga langkah kita menjemputnya terasa lebih ringan.
Setelah membaca artikel ini, apakah kamu siap dari karyawan jadi pengusaha? atau tetap ingin menjadi karyawan? Semua keputusan ada ditangan Anda..

Sumber: Pengusaha Muslim

Tafsir surat Yasin

Ust Abdullah Zaen

 

Seminar Motifasi Bisnis

Ustadz Yusuf Mansur 

 

Debat Muslim VS Kristen

Mustahil Kristen Bisa Menjawab

 

Debat ISLAM VS KRISTEN

APAKAH YESUS TUHAN 

 

Kajian Islam: Pilih Mana?

Pilih Mana? 

- Ustadz Abdullah Zaen, MA

Cara Sholat

Cara Sholat yang Benar Sesuai dengan Cara Sholat Nabi - Panduan Shalat Lengkap

 Yufid TV


 
FAJAR HERU SANCOKO © 2012 | Designed by Bubble Shooter, in collaboration with Reseller Hosting , Forum Jual Beli and Business Solutions